Sunday, June 26, 2011

A MOMENT at Station / SEJENAK di Stasiun

A MOMENT AT STATION / SEJENAK DI STASIUN

 


A MOMENT AT THE STATION *)
By Pinondang Situmeang

We shouldn’t meet in the station, who always noted good bye melancholies, bye wave hands and running eye balls. Wheels cracking voices and the rocking trains mix up our minds. It’s a sign?

If your mind intend to come back again, why did you leaved a piece of sunset, just like a twilight train go with the night fall, then running in silence. Meanwhile I am counting footsteps over the old chairs in the waiting room, that always stopping by the tiny flame of hope that leaved ashes and some garbage and spats.

Just like you, I never ever expected this meeting, even more set up a plan and created the melancholy poems and hoping for a sweet memories later on in the boring moment or when silent become a endless friend. But the station had become a voice recorder in my chest in between baby crying and stall traders barking and passengers disappointment cause by the delay of the schedule a lots of times.

Might be, I just waiting for my turn ahead to a last station as my last story, but again your smile mix up my mind and commitment. Even thought I have to stand up from my silent along with the full of smoke

A signal blow, the fate wake up and go. A pair of eye ball, a curve of smile and monolog talking wouldn’t fill in my bag. I think say good bye more then enough to understand that the station just a stopping by, before forward and found out the end of a journey, each of us – and definitely it is not you

Might be just like a promise or a piece of memory that had been gone with the moment goes by.

*) Translation from Sejenak di Stasiun oleh Lamhot Susanti Saragih, Medan



SEJENAK DI STASIUN
by Lamhot Susanti Saragih on Monday, June 20, 2011

Semestinya kita tidak bertemu di stasiun yang senantiasa mencatat haru biru perpisahan, lambai tangan dan bola mata yang menggelinding. Derak roda, dan gerbong yang mengguncang itu telah mengaduk-aduk nalar. Pertandakah ini?

Jika memang harus kembali mengapa engkau sisakan potongan pelangi, semisal kereta senja yang pergi bersama malam kemudian beranjak lalu dalam bisu. Sementara aku menghitung jejak di atas kursi renta ruang tunggu, yang selalu disinggahi beberapa puing harap yang tak menentu, hanya menyisakan abu dan beberapa sampah bahkan ludah.

Sepertimu, aku tidak pernah harap pertemuan ini, apalagi mereka-reka ingatan lalu mencatatnya dalam sajaksajak sendu, minta dikenang, kelak ketika jenuh mencekik, atau saat sunyi menjadi teman paling abadi. Tapi stasiun telah mencatat deru di dadaku, di antara tangis bayi, dan teriak para pedagang asongan, juga keluh calon penumpang karena jadwal kereta diundur, berkali-kali.

Mungkin aku hanya menunggu giliran, menuju stasiun terakhir yang menjadi ujung ceritaku, namun lagilagi senyummu membiaskan tekadku. Meski aku harus beranjak dari diamku bersama asap yang mengabu.
...

Peluit berbunyi, takdir menyuruh kita beranjak. Sepasang mata pualam, segiris senyum, dan percakapanpercakapan monolog itu tidak akan muat dalam koperku. Aku pikir, ucapan selamat tinggal lebih dari cukup membuat mengerti, stasiun hanya persinggahan sebelum kita menemukan ujung perjalanan, masing-masing--dan itu bukan kau.

Mungkin serupa janji atau hanya keping memori yang berlalu bersama laju sang waktu.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kolab sambil lalu dengan Furi di sela jam-jam sibuk. Masih saling membaca.

No comments:

Post a Comment